mig33northsulawesi.4umer.com

tempat berkumpul para miggers community
 
HomeCalendarFAQSearchMemberlistPortalUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 Tiga Hari Demam, Langsung Meninggal

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
pillow_magician
Star of the month
avatar

Posts : 207
Points : 325
Join date : 2010-01-22
Age : 26
Location : Manado, North Sulawesi. Indonesia
Mig33 ID : pillow_magician

PostSubject: Tiga Hari Demam, Langsung Meninggal   Sat Feb 06, 2010 1:51 pm

VIRUS demam berdarah dengue (DBD), menjadi penyakit paling menakutkan sepanjang Januari 2010. Penyakit ini merongrong kesehatan ratusan pasien serta sukses merengut belasan nyawa anak-anak dan remaja. Seperti yang dialami keluarga Piayai-Wowor.

Vivi Sondang, Amurang
SIANG itu langit di atas Kota Amurang terlihat cerah. Mendung yang biasanya membungkus Kota Amurang enggan menepi Rabu (3/2). Di salah satu sisi di kaki gunung di kelurahan Bitung kecamatan Amurang, terlihat sebuah rumah sederhana yang baru dirundung duka. Rumah itu adalah kediaman Adi Piayai dan Resly Wowor. Kediaman berukuran agak besar sementara dalam proses penyelesaian. Di sekitarnya tak terlihat adanya genangan air. Namun lingkungan di luar rumah banyak pohon dan kandang ternak babi dan sejumlah pembuangan akhir darurat.
Seorang wanita muda yang ternyata Resly Wowor dari Indira Piyai korban DBD sedang membasuh pakaian di samping rumah. Saat wartawan menyapa, dia sejenak terkejut karena kedatangan tamu asing. Raut wajah Resly masih terlihat cape. Tubuh rapuhnya dibalut kaos warna hitam, sebagai tanda baru kehilangan orang terkasihnya. Siang itu Resly hanya mengenakan celana pendek, kepalanya diikat pakai kain bayi. “Mari silahkan masuk, jangan perhatikan kondisi rumah kami,”sapa Resly dengan ramah.
Sambil mempersilahkan koran ini duduk, wanita ini langsung berkisah tentang hari-hari terakhir maut menjemput nyawa anak keduanya. Suaranya serak saat mengingat usia Indira yang bertahan hidup sampai usia 4 tahun 2 bulan 17 hari. “Kasihan ade cepat sekali dipanggil Tuhan. Cuma tiga hari sakit langsung meninggal, padahal di lingkungan sekitar banyak yang kena penyakit DBD,” kisahnya ketika koran ini menanyakan perihal sampai nyawa anaknya yang masih balita tak tertolong lagi.
Dia pun sedikit mengisahkan awal petaka yang merenggut Indira. Saat itu Kamis (14/1) Indira demam tinggi. Saat itu penyakit demamnya diangap demam biasa layaknya sakit anak-anak kecil. Malam hari itu, Resly dan suaminya pekerja lepas berinisiatif untuk berobat. Dengan tenang Resly mengambil obat pada salah satu perawat di lingkungan tempat tinggalnya. Sayangnya obat yang diminum tidak ada perubahan. Hingga besok harinya Jumat (15/1) Resly bersama orang tuanya mengambil inisiatif untuk meminta saudaranya yang mahir memijat. “Usai di pijat anak saya demamnya langsung turun. Dan hari Jumat itu ade langsung bermain seperti biasanya,” tuturnya yang tak menyangka kalau demam turun itu tandanya trombosit anak sudah menurun.
Namun rasa bahagia tidak berlangsung lama, kepolosan wajah Indira saat bermain hanya berlangsung sesaat. Malam itu juga semua kaki dan tangan Indira sudah dingin. Mereka membawa pada salah satu dokter praktek dekat rumah. “Tapi sayangnya, dokter tidak bangun sehingga tak dilayani. Terpaksa kami pulang, baru besok paginya dibawa ke rumah sakit Kalooran,” tuturnya yang mengaku tak kuasa melihat anaknya yang menahan rasa sakit.
Pagi harinya Indira langsung di bawa ke rumah sakit Kalooran Amurang, kondisi Indira sudah kritis, padahal Indira masih memperlihatkan senyum dan tawa kecilnya. Paramedis rumah sakit tersebut begitu cepat memberikan pertolongan. “Ade bahkan masih bisa berbicara, tapi ketika para perawat dan dokter hendak mencari nadi ade untuk diinfus sudah sangat susah,” tutur istri tercinta Adi Piyai sambil duduk di kursi tamu.
Karena tidak berhasil balita malang itu dirujuk ke RS Prof Kandow Manado Sabtu.“Kami langsung dilayani, dan saat dokter akan infus dalam beberapa menit bisa dapat. Saat itu juga saya langsung bergumam syukur puji Tuhan nadinya sudah dapat,” tuturnya.
Keyakinannya untuk Indira sembuh begitu tinggi. Sampai-sampai ketika dokter memberikan resep mengambil tambahan obat infus dan tranfusi darah sudah berjalan lancar. Ketika itu semalam bisa dilalui Indira, namun sayangnya langsung kritis. Sebanyak tiga kali kaki Indira dioperasi kecil dilakukan tim medis dan dokter. Doa, doa dan doa selalu dipanjatkan kehadiran Tuhan. Dengan harapan Tuhan mendengarkan doa permohonan untuk Indira. “Apalagi kami selalu mendapat dorongan dari dokter. Selama ada ditangan dokter pasti usaha tetap dilakukan,” tuturnya yang mengaku kaget mengapa sampai penyakit DB bisa menimpa anak terkasihnya.
Usaha dokter untuk mempertahankan hidup Indira sia-sia. Setelah menginap semalam di RS Prof Kandow Senin (18/1) pagi sekitar jam 08.00 WITA Indira menghembuskan nafas terakhir.
“Kalau saja saya tahu Tuhan akan berkehendak lain terhadap anak saya, pasti saya tak akan ijinkan anak saya disiksa. Tiga kali kakinya dioperasi dokter. Kasihan ade, tapi saat itu saya berpikir, mungkin dengan jalan dokter buat seperti itu anak saya akan tertolong, tapi kenyataannya Tuhan yang lebih berkuasa,” tuturnya yang terlihat setetes air mata di kelopak matanya, sambil mengaku berterima kasih kepada pihak dokter yang sudah berusaha untuk menolong anaknya.(***)
Back to top Go down
View user profile http://rizal9.blogspot.com
 
Tiga Hari Demam, Langsung Meninggal
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Selamat Menyambut Hari Raya Aidilfitri 1433H
» Hari ni aku akan bernikah....
» HARI KELUARGA FREERIDER DI AIR TERJUN CHAMANG, BENTONG PAHANG - 08/04/2012
» The Exchange
» DEMAK DMX untuk Trail Bike..adakah moto nie mampu melakukanyer?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
mig33northsulawesi.4umer.com :: ABOUT NORTH SULAWESI :: About North Sulawesi-
Jump to: